Angka Stunting Papua Barat 2021 Lewati Target Indeks Nasional

Kadis Kesehatan Provinsi Papua Barat Otto Parorongan bersama Direktur RSU Provinsi Papua Barat dr. Arnoldus Tiniap (belakang). (Foto: RED)

MANOKWARI – Angka penanganan Stunting di Provinsi Papua Barat tahun 2021 mencapai 22,14 persen, melewati target indeks nasional 21,1 persen. Meski demikian penanganan masif terus dilakukan.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat menyebutkan tiga daerah tertinggi angka Stunting, Kabupaten Sorong Selatan 35,39 persen, Tambrauw 30,67 persen dan Kabupaten Sorong 30,39 persen.

Catatan yang sama untuk 9 daerah lain diantaranya Raja Ampat 27,46 persen, Teluk Wondama 27,45 persen, Maybrat 23,24 persen, Fakfak 23,41 persen, Pegunungan Arfak 23,31 persen, Kaimana 22,71 persen, Manokwari Selatan 19,5 persen, Teluk Bintuni 17,45 persen, Manokwari 15,6 persen dan Kota Sorong 12,25 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat Otto Parorongan membeberkan angka stunting sejumlah daerah di Papua Barat memang cukup tinggi, namun sedang dalam masa penanganan.

“Saat ini sedang fokus penanganan termasuk dari pemerintah provinsi juga,” bebernya Senin (23/5).

Penanganan itu (Stunting) melibatkan banyak OPD termasuk Organisasi Wanita dan PKK diantaranya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, PU, Dinas Pendidikan dan sejumlah instansi teknis lain.

“Semuanya dibawah kordinator BKKBN. Dalam waktu dekat kitarapat untuk mempercepat penanganan Stunting, melibatkan seluruh kabupaten dan kota,” paparnya.

Secara berbeda Penjabat Gubernur Papua Barat Komjen Pol (Purn) Drs. Paulus Waterpauw mengaku akan mengecek langsung untuk memastikan penanganan Stunting .

“Saya dengar di Manokwari Selatan itu tidak hanya Stunting tapi juga gizi buruk dan buta aksara cukup tinggi. Masalah-masalah seperti ini yang harus cepat diperhatikan,” kata Waterpauw.

Mantan Kaba Intelkam Polri ini mengaku akan turun langsung ke lapangan dan mengecek penanganan Stunting.

“Banyak Pustu, bangunannya bagus tapi perlu dicek apakah ada petugas atau tidak. Bukan mencari kesalahan tapi lebih kepada tanggung jawab,” singkatnya. (RED/NN)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *