Dituding Begal dan Dianiaya, Ini Pengakuan Korban Salah Tangkap Oknum Polisi



Foto : Sartadius Yenu (20), korban salah tangkap oknum polisi di Manokwari. Dituding begal dan dianiaya di bagian kepala, bibir serta telinga. (pzk/nn)

MANOKWARI, Nokennews.com – Seorang pemuda di Manokwari, Papua Barat, Jumat (24/4/2020) dini hari menjadi korban salah tangkap oknum polisi. Pemuda bernama Sartadius Yenu (20) ini dianiaya dan dituding begal.

Sartadius mengisahkan kejadian yang menimpanya pukul 02.00 WIT. Saat hendak pulang ke rumahnya di Lambah Hijau, ia 4 temannya dihampiri oknum polisi sambil menunjukan stik Bisbol.

Karena panik, mereka lalu memacu motor ke arah Rendani dan menyembunyikannya di belakang rumah warga.

“Saat saya jalan ke depan, satu dari 6 oknum polisi bertanya, kamu ini yang begal dan jambret ?. Saya jawab tidak om, tetapi langsung dipukul,” kisahnya mengawali kejadian yang menimpanya.

Setelah disuruh duduk ke bawah, ia dipukul dengan popor senjata di bagian kepala dan sempat ditendang di bagian samping telinga. Kemudian Sartadius dan beberapa temannya disuruh tidur dan tangannya kemudian diborgol.

Akibat kejadian itu, Sartadius mengalami luka sobek di bagian kepala, bibir dan lebam di bagian telinga sebelah kiri.

Setelah itu, ia dan teman-temannya digiring menuju Polsek Bandara Rendani. Di sana, mereka sempat diinterogasi dan kemudian dibawa ke Polres Manokwari.

“Saat ditanya di kantor polisi, saya mengaku tidak begal dan tidak mengenal orang-orang yang mereka tanya,” bebernya.

Pukul 04.00 WIT, Sartadius dan empat rekannya dipulangkan ke rumah, setelah sempat menjalani pemeriksaan di Polres Manokwari.

Imanuel Yenu, orang tua korban salah tangkap, menyesalkan kejadian yang menimpa anaknya. Apalagi dituduh begal dan dianiaya oknum polisi.

“Kenapa sampai dipukul dan dituduh begal ?. Seharusnya dibawa baik-baik dan diperiksa di kantor polisi, bukan begini caranya,” kesalnya.

Kejadian ini pun sudah diadukan ke Propam Polda Papua Barat, sebagai desakan untuk mendapat keadilan terhadap apa yang dialami anaknya.

“Kami dirugikan, anak saya dipukul, ditendang, diborgol seperti penjahat, fotonya tersebar di grup-grup WhatsApp. Kami minta 6 oknum polisi ini bertanggungjawab,” desaknya.

Imanuel memberi batas waktu 2 X 24 jam hingga Senin (27/4/2020), agar kejadian ini segera diselesaikan. Ia berencana kembali ke Propam Polda Papua Barat, untuk mengecek sejauh mana perkembangan penanganan masalah ini. (pzk/nn)

Author

Redaksi Noken News

Tinggalkan Balasan