Kisah Mahasiswa Bintuni Saat Banjir : Selamatkan Ijazah, Ngungsi Tiga Malam di Pasar Daging

Kondisi asrama mahasiswa Teluk Bintuni di Kota Sorong, Minggu (28/8). (Foto: RED)

SORONG – Bencana banjir yang melanda sejumlah lokasi di Kabupaten dan Kota Sorong, Minggu (21/8) meninggalkan kisah dan pengalaman yang tak sedikit.

Sederet kisah itu disampaikan mahasiswa Teluk Bintuni yang menempuh studi di Kota Sorong. Mereka terpaksa mengungsi ke tempat yang aman akibat banjir.

Tak banyak barang yang bisa dibawa saat luapan kanal Viktori Kilometer 10 Distrik Sorong Timur mulai meninggi. Hanya berbekal baju di badan, mereka membawa ijazah dan barang seadanya.

Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Teluk Bintuni di Kota Sorong, Rajab Refideso mengisahkan banjir yang melanda membuat mereka terpaksa mengungsi.

“Di asrama ini ada sekitar 30 lebih mahasiswa dan mahasiswi. Semua terpaksa mencari tempat yang aman saat debit air mulai meninggi,” ujarnya kepada Nokennews.com, Minggu (28/8).

Material lumpur masih menggenangi bagian depan Asrama Bintuni di Viktory Kilometer 10 Sorong Timur. (Foto: RED)

Mereka kemudian bergegas menuju pasar daging. Tempat itu sedikit aman dari banjir karena letaknya sedikit tinggi dari badan jalan, meski letaknya bersebelahan dengan kanal.

“Kita semua tinggal dan bermalam di situ. Air setinggi pinggang orang dewasa membuat asrama seperti tenggelam. Beberapa rumah warga sekitar juga sama,” bebernya.

Pasar itu kemudian berubah menjadi posko darurat sementara. Sejumlah warga sekitar yang rumahnya terendam air, juga mengungsi di situ bersama
mahasiswa dan mahasiswi.

Bahkan sesuai pantauan Nokennews.com, sejumlah warga masih menempati lokasi itu hingga Minggu (28/8) sore. Sedangkan mahasiswa sendiri telah kembali ke asrama sejak dua hari terakhir.

Kondisi asrama sendiri masih nampak dipenuhi sisa material lumpur. Sejumlah barang yang terendam seperti kasur dan kursi juga berada di luar asrama.

Rajab Refideso Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Teluk Bintuni di Kota Sorong. (Foto: RED)

Rajab mengaku sudah menyampaikan hal ini ke Pemkab Teluk Bintuni, termasuk menggelar audiance bersama DPRD setempat. Namun apa yang diharapkan belum terjawab. Setidaknya mereka mendambakan tempat tinggal yang aman dan nyaman.

“Pak Bupati Bintuni pernah datang, bahkan melihat langsung kondisi asrama saat hujan dan air setinggi mata kaki, tahun 2019. Saat itu ditanya apa kemauan mahasiswa dan kami minta kontrakan baru, karena sering kebanjiran,” kisahnya.

“Kami harap asrama sebelumnya yang pembangunannya bermasalah hukum, bisa dilanjutkan. Disitu tempatnya aman dan bebas dari ancaman banjir,” harapnya lagi.

Mewakili seluruh mahasiswa, ia juga berharap keluhan ini segera ditanggapi Pemkab setempat. Pasalnya mereka kesulitan dengan kondisi saat ini. Apalagi cuaca di Kota Sorong sendiri masih tak menentu.

Dari informasi yang dihimpun menyebutkan kompleks Viktori Kilometer 10 Distrik Sorong Timur, merupakan salah satu lokasi terparah banjir. Hingga kini warga pun was-was jika cuaca mulai tak menentu. (RED/NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *