4,5 Tahun Bersihkan Beling, KAAM ‘Sulap’ Pantai BLK Jadi Primadona Wisata



Foto : Yan Agus Rumbewas, Ketua Komunitas Anak Air Manokwari (KAAM).

MANOKWARI, Nokennews.com – Pantai BLK di Manokwari, Papua Barat, kini berubah menjadi salah satu tempat primadona wisata yang ramai dikunjungi warga.

Padahal belasan tahun lalu, tempat ini tak terawat, bahkan dijadikan pula lokasi pesta minuman keras oleh oknum tidak bertanggung jawab. Disisi lain, pantai ini juga sering disebut angker.

Banyaknya pecahan beling yang berhamburan di tepi pantai ditambah melubernya sampah, menutup rapat potensi pantai sebagai obyek wisata saat itu.

Yan Agus Rumbewas, Ketua Komunitas Anak Air Manokwari (KAAM), mengaku pembersihan sekaligus penataan Pantai BLK dimulai Tahun 2008 lalu.

“Kita bersihkan pecahan beling termasuk berbagai jenis sampah selama 4’5 tahun. Nanti Tahun 2012 barulah pantai ini mulai bersih,” ungkapnya, akhir pekan lalu di Manokwari.

Prajurit TNI AL yang bertugas di Fasharkan Manokwari ini mengaku awalnya tak mudah menata pantai BLK. Apalagi di sekitar lokasi itu juga terdapat hunian warga.

Ia mulai membina serta menata karakter anak-anak disekitar lokasi pantai. ‘Sambil menyelam minum air’, istilah ini dipakai sekaligus mulai menata SDM dan kebersihan pantai. Diantaranya menanam pohon sejak 2013 lalu.

Komunitas Anak Air Manokwari (KAAM) sendiri dicetus tahun 2011. Namun nama komunitas mulai paten 2013 dan terdaftar di Kesbangpol tahun 2015.

KAAM juga melakukan pembinaan berdasarkan kelompok umur. Anak usia 12 tahun ke bawah masuk pembinaan bidang seni, sementara olahraga air (renang, dayung dan selam) usia 12-27 tahun.

“Usia diatas 27 tahun sudah diarahkan untuk wirausaha, seperti service boot dan guide. Ini semua kami lakukan sebagai bentuk pemberdayaan berjenjang,” beber Yan.

Sudah bersusah payah menata pantai BLK, kini KAAM juga menjadi komunitas pelopor kebersihan pesisir. Selain memasang jaring penghalau sampah, juga dilakukan kegiatan rutin pembersihan pantai dan laut dari sampah.

Tak hanya BLK, trik memasang jaring penghalau sampah di laut juga dipasang di Pulau Mansinam dan Pulau Lemon. Dua tempat wisata ini pun membutuhkan perhatian besar dari segi kebersihan pantai dan laut.

“Untuk kebersihan di pantai, kami masih menggunakan alat manual seperti serok. Kami juga butuh bak sampah, apalagi di BLK juga ada hunian penduduk,” singkat Yan.

Saat peringatan Hari Pers Nasional tingkat lokal di Manokwari, 15 Februari 2020, Yan menerima penghargaan dari PWI Papua Barat. Raihan ini atas kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, khususnya pantai BLK.

Dirinya berharap muncul komunitas serupa di Manokwari, agar bersama KAAM mengawal kebersihan lingkungan pesisir Teluk Sawaibu Manokwari. (pzk/nn)

Author

Redaksi Noken News

Tinggalkan Balasan