LP3BH : Kisah Pendaratan Injil Pantas Masuk Kurikulum Pendidikan di Papua



Foto : Direktur LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy.

MANOKWARI, Nokennews.com – Lembaga Penelitian, Pengkajian, dan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, menilai kisah masuknya Injil di Pulau Mansinam, dimasukan dalam kurikulum pendidikan di Tanah Papua.

Direktur LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy mengatakan momentum masuknya Injil di Tanah Papua, selama ini hanya diramaikan dalam bentuk seremonial.

“Upaya menjaga dan melindungi serta merawat dan mewartakan Injil, menjadi batu penjuru bagi perubahan peradaban (budaya dan adat-istiadat) Orang Papua mesti dipertahankan dan dikedepankan,” jelasnya, Selasa (4/1/2020) via rilis tertulis.

Kajian akademis ilmiah dapat dilakukan, kemudian mendorong upaya implementasi dalam kehidupan masyarakat di Tanah Papua, dimulai dari Mansinam dan Manokwari.

“Dimulai menempatkan catatan sejarah Pekabaran Injil di di Pulau Mansinam. Itu sebagai muatan lokal dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di seluruh Tanah Papua,” ungkapnya.

Yan mengungkap sejarah Pekabaran Injil kemudian memerdekakan orang Papua dari kegelapan menjadi terang.

Pendidikan menjadi pintu masuk untuk memutus rantai ‘penjajahan peradaban lama’ orang Papua.

Menurut beberapa buku yang ditulis para Pendeta, seperti DR.Freerk Ch.Kamma ataupun Ds.Isaac Samuel Kijne, jelas tersirat catatan betapa “jahat” nya suku-suku di pesisir Utara Tanah Papua sebelum dan ketika itu (1800-an).

Dimana budaya perang dan perampokan bahkan penganiayaan berlangsung, bahkan meluas jauh hingga ke Kepulauan Maluku Utara dan sampai ke kepulauan Madagaskar.

“Nenek moyang orang Papua ketika itu sungguh perkasa. Tapi keperkasaan mereka pagi hari itu (Minggu, 5 Februari 1855) runtuh dan tak berdaya menghadapi Kekuatan Allah itu Sendiri yaitu Injil,” bebernya.

“Dengan Nama Tuhan, kami menginjak Tanah ini”. Demikian untain kata-kata dari ungkapan Doa yang dibawakan oleh 2 (dua) orang Zendeling : Carl Wullem Ottow dan Johann Gottlob Geissler, ketika mendarat di Pulau Mansinam, Minggu pagi, 5 Februari 1855 sekitar pukul 06:00 WIT.

Kedatangan Ottow dan Geissler ke Pulau Mansinam, diwarnai penolakan orang Papua berbahasa dan budaya Numfor, yang mendiami pesisir Teluk Doreh dan Pulau Mansinam.

Akan tetapi kekuatan Injil mematahkan semuanya dan masyarakat saat itu terbengong melihat Ottow dan Geissler yang tengah berdoa.

Keduanya membangun tenda untuk tempat bermalam di sana. Tidak ada orang Doreh (kini Doreri) yang melarang bahkan mengusir mereka berdua. (ajm/nn)

Author

Redaksi Noken News

Tinggalkan Balasan