Perlukah Rapid Tes Massal ?, Sudah 1108 OTG di Papua Barat



Foto : Juru Bicara Covid-19 Papua Barat, dr. Arnoldus Tiniap.

MANOKWARI, Nokennews.com – Jumlah Orang Tanpa Gejala di provinsi Papua Barat, terus meningkat. Hingga Selasa (19/5/2020) siang, Gugus Tugas Covid-19 Papua Barat, merilis OTG mencapai angka 1108.

Tambahan 30 OTG terbaru, 5 dari Manokwari dan 25 orang dari Teluk Bintuni. Dari 1108 OTG, sebanyak 736 masih dalam pantauan dan 372 orang selesai masa pemantauan.

Dengan jumlah OTG yang kian meningkat, perlukah dilakukan Rapid Tes massal di 13 kabupaten/kota di Papua Barat ?.

“Di beberapa daerah, belum diputuskan apakah melakukan Rapid Tes massal atau tidak. Tergantung logistik ketersediaan alatnya karena terbatas,” ujar Juru Bicara Covid-19 Papua Barat, dr. Arnoldua Tiniap di Manokwari.

Menurutnya lebih dari 70 jenis alat Rapid Tes, tetapi belum dipastikan jenis alat Rapid Tes mana yang benar-benar sensitif dan boleh dikatakan akurat.

“Ada hasil tes Rapid Tes positif, tetapi saat Swab justru negatif. Jika kita sudah gunakan PCR, lebih cepat dan hasilnya lebih akurat,” paparnya.

Selain itu, perbedaan ongkos untuk sekali uji hasil antara Rapid Tes dengan PCR hanya sekira Rp.300 ribu. Misalnya jika sekali tes Rapid Tes Rp.300 ribu, sekali tes PCR ongkosnya Rp.800 ribu.

“Kalau gunakan Rapid Tes, boleh dikatakan kerja dua kali karena harus dipastikan dengan hasil pemeriksaan swab dari laboratorium. Hasil Swab dengan PCR juga ,meyakinkan tentunya,” kata dr. Arnold.

Ia mengaku pemeriksaan Rapid Tes di Manokwari, sudah dilakukan terhadap beberapa klaster atau kelompok yang berhubungan langsung dengan pasien positif, misalnya tenaga medis.

“Kalau Rapid Tes untuk massal belum dilakukan tetapi kita lagi berpikir ke arah itu. Apalagi jumlah OTG terus meningkat. Saya belum pastikan apkah kabupaten/kota lain akan melakukan tes massal ini,” singkatnya. (pzk/nn)

Author

Redaksi Noken News

Tinggalkan Balasan