Cerita Inspiratif Shelpy Mayor, Fotografer Keliling yang Tak Kenal Lelah



Shelpy Mayor, pejasa Fotografer keliling di Manokwari Papua Barat. (NN1)

MANOKWARI, Nokennews.com – Jangan malu untuk berusaha, jika ada kesempatan kenapa tidak ?. Inilah prinsip Shelpy Mayor, fotografer kelahiran 16 September 1965 yang tidak menyangka jika kerjanya sehari-hari kini melekat dengan kamera.

Kisah awal sebelum Shelpy bergabung dengan sebuah komunitas fotografer di Jakarta, ternyata panjang. Ia dulunya hanya sebagai seorang kuli bangunan dengan bayaran Rp.100 ribu per hari.

Berbekal tamatan Sekolah Teknik (ST) yang sekarang bernama SMP Negeri 02 Manokwari, Shelpy kemudian menjadi kuli bangunan. Seiring waktu berjalan, ia pun bertemu dengan seorang fotografer bernama Royke di Manokwari.

Pertemuan itu mengawali nasibnya yang kini boleh dibilang lebih baik. Ia menerima tawaran menjadi fotografer, tetapi jangan salah karena ini namanya fotografer yang menghasilkan. Sekali pencet tombol kamera uang pun mengalir.

Ia mulai menekuni bidang fotografer tahun 2017, tepatnya saat perayaan HUT Pekabaran Injil di Pulau Mansinam Manokwari, 5 Februari. Saat itu ia bergabung dengan komunitas fotografer, yang menawarkan jasa foto kepada pengunjung di pulau itu.

“Tahun 2017, saya berhenti kerja bangunan dan bergabung dengan sebuah komunitas fotografer, dimulai dari Pulau Mansinam,” tutur Shelpy, mengawali kisahnya.

Sejak itu, Shelpy mulai mandiri. Ia berusaha melengkapi perlengkapan yang dibutuhkan seperti kamera, kertas dan alat cetak foto. Kerjanya pun tidak ribet karena hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.

Tetapi bidang yang ditekuninya ini tak semudah membalikan telapak tangan. Meski demikian Shelpy terus belajar dan mulai akrab dengan kamera serta peralatan lainnya.

Tak tanggung-tanggung, ia harus merogoh kocek yang cukup mahal untuk peralatan yang dibutuhkan. Mulai dari kamera, lensa, blitz hingga kertas dan alat mencetak foto seharga Rp.15 juta.

“Kertas sekali pesan di Jawa seharga 600 ribu rupiah. Alat cetak foto saya beli juga dari Jawa. Semua perlengkapan itu selalu dibawa kemana pun,” aku ayah 6 anak ini.

Isteri dari Salomina Baab ini sekarang menikmati hasil kerjanya. Ia pernah meraup Rp.2,5 juta sehari, saat diminta mengabadikan sebuah acara pernikahan di Pulau Numfor Biak.

Di sisi lain, Shelpy sangat ingin jika ada anak asli Papua, yang mengikuti jejaknya. Baginya, setiap manusia diberi akal budi agar berusaha melakukan hal yang positif.

“Saya yakin generasi anak asli Papua juga bisa. Buang rasa malu dan berusaha keras. Kalau tidak, pengaruh hal-hal negatif menutupi talenta mereka,” papar Shelpy.

Ia mengaku bidang kerjanya saat ini cukup membantu ekonomi keluarga. Apalagi 5 dari 6 anaknya (1 meninggal), kini telah menyelesaikan studi dan sudah bekerja.

“Satu foto Rp.30 ribu, ukuran 4 R. Foto langsung jadi. Sekali foto, uang mengalir. Saya ingin sekali ada anak Papua yang ikuti jalan kerja seperti ini,” ujarnya lagi.

Meski di usianya yang ke 65 tahun, Shelpy yang beralamat di Rendani Distrik Manokwari Barat ini, bersemangat menekuni kerjanya. Ia menjadi salah satu contoh dan inspirasi bagi generasi muda di Manokwari Papua Barat. (NN1)

Author

Redaksi Noken News

Tinggalkan Balasan