Otsus Berhasil Atau Gagal, Tengok Dulu Pendidikan Untuk Bangun SDM Papua



Pelajar SD di Ransiki, Manokwari Selatan.

MANOKWARI, NokenNews.com – Keberhasilan perjalanan Otonomi Khusus (Otsus) di tanah Papua sejak 2001 silam, diklaim sejumlah pihak. Tetapi tak sedikit pula mengklaim kegagalan dengan beragam alasan.

Lamek Dowansiba, Ketua Komunitas Suka Membaca (KSM) Papua Barat, menilai klaim keberhasilan Otsus khusus pendidikan berbanding terbalik dengan realita yang ditemukan di lapangan.

Ia mengungkap berbicara Otsus secara umum meliputi infrastruktur, pendidikan-kesehatan dan ekonomi kerakyatan. Namun kali ini lebih spesifik soal pendidikan di Tanah Papua.

“Jangan jauh-jauh, ada kampung di Manokwari, yang anak-anak usia sekolah justru tidak menikmati apa itu pendidikan,” ungkap Lamek, Senin (25/1/2021).

Yang dimaksud Lamek adalah kampung Urundopi, Manokwari Utara. Memang di dekat lokasi (kampung sebelah) terdapat sekolah tetapi anak-anak di kampung Urundopi tidak ada yang bersekolah.

Begitu juga dengan anak-anak di kampung Irio di Maripi Manokwari Selatan, tepatnya dekat Polda Papua Barat. Sama dengan di atas, anak usia sekolah di lokasi itu juga tidak menikmati pendidikan.

“Saya juga turun ke beberapa sekolah yang lain, ada beberapa yang bangunannya tidak laik dan tidak diurus, begitu juga siswa-siswinya. Ini harus diseriusi,” beber penggiat literasi di Manokwari ini.

Aktivitas Komunitas Suka Membaca (KSM) pada salah satu sekolah di Ransiki, Manokwari Selatan.

Lamek berani menyebut dana Otsus untuk pendidikan kurang tepat, karena banyak anak usia sekolah yang belum menikmati apa itu pendidikan.

Pemprov Papua Barat dan kabupaten/kota diminta tak asal mengklaim keberhasilan Otsus untuk pendidikan.

“Omong kosong kalau bicara kemajuan bangsa tanpa memajukan SDM dari bidang pendidikan. Jangan ada klaim keberhasilan Otsus untuk pendidikan jika masih ada anak-anak yang belum bersekolah,” tegasnya.

Ia berharap kondisi ini tak dibiarkan berlarut karena akan semakin banyak generasi penerus bangsa yang tidak merasakan bangku pendidikan (SD).

“Kampung Urundopi dekat dengan rumah pribadi gubernur. Kampung Irio juga dekat kota, tetapi anak-anak di situ juga tidak bersekolah. Sangat disayangkan,” singkatnya.

Pemerintah sejauh ini memberi opsi anggaran Otsus lebih besar untuk pendidikan dan kesehatan. Tahun 2014, tercatat Rp.2,05 triliun dan bertambah menjadi Rp.2,4 triliun Tahun 2018.

Meski demikian, banyak pihak menilai penyaluran dana Otsus untuk pendidikan belum maksimal, sesuai harapan untuk meningkatkan SDM rakyat Papua.

Memang dalam tanda kutip terdapat ‘kemajuan’ bidang pendidikan tetapi pada umumnya hanya berlaku untuk anak-anak di daerah perkotaan.

Inilah pekerjaan rumah pemerintah dan pihak terkait agar pendidikan di tanah Papua, merata hingga daerah pinggiran dan pelosok. (rls/nn)

Author

Redaksi Noken News

Tinggalkan Balasan